Facebook youtube Pinterest Twitter LinkedIn instagram

A Lost Nemophilist

Tentang perempuan dibalik pepohonan yang selalu rindu menyelami hutan kata-kata

Dear : Ibuku Tersayang

Ibu..
Kesejukan, kehangatan, kesegaran yang selalu kau arahkan padaku
Mampu menyelimuti kehidupan ku, hari hariku
Seperti alam yang tak pernah lelah menyelimuti bumi 
Memberikan kenyamanan bagi seluruh makhluk hidup yang ada didalamnya

Ibu..
Walaupun anakmu ini tak sehebat orang diluar sana, aku tetap mencintaimu
Walaupun anakmu ini sering terlihat hina dimatamu, aku tetap menyayangimu
Walaupun anakmu ini sering terlihat bodoh saat bibir ini tak mampu mengeluarkan kata-kata manis di depanmu, aku tetap merindukanmu
Walaupun engkau jauh disana, tetapi anakmu ini selalu memelukmu dalam doa
Menciummu dalam linangan air mata
Merindukanmu di setiap derap langkah kakiku

Tiada hari yang kujalani tanpa sesosok ibu yang menguatkan hati
Engkau yang telah kuat mengandung diriku sembilan bulan lamanya
Engkau yang telah berjuang mati-matian demi mempertahankan nafasku
Engkau yang selalu terjaga dalam gelap malam untuk memperjuangkan hidupku

Ibu..
Jikalau tangan ini dapat menyeka ribuan pilumu, akan senantiasa ku lakukan
Tapi entah mengapa dan bagaimana
Engkau bisa tampak tegar bagai pucuk pepohonan yang kuat diterpa angin badai
Biarlah orang diluar sana berkata apa
Aku ingin sepertimu, Ibu..
Wanita yang selalu tegar, dan pantang menyerah
Yang dapat membelai duka menjelma menjadi tawa bahagia

Terkadang aku menahan rindu, Ibu..
Terpenjara oleh ruang dan waktu yang membatasi diri
Saat anakmu ini masih berada diperantauan
Sedang menimba ilmu untuk bekal dihari kelak
Menelan pahit rindu untuk bertemu dirimu

Aku tahu, mengeluh adalah suatu pantangan bagimu, Ibu..
Aku merasa bersyukur bahwa hari ini aku masih bisa mendengar suara emasmu
Ku bisa melihat dan menyentuh ragamu
Dan saat aku jauh darimupun
Aku tetap merasakan kehangatanmu walau kau berada jauh dipelupuk mataku
Seperti hangatnya mentari pagi yang memang tiada bisa ku gapai asalnya
Aku tetap merasakan kesejukanmu walau ragamu masih di seberang sana
Seperti sejuknya hembusan angin pagi yang memang tiada bisa ku sentuh wujudnya

Aku pernah terjatuh
Tapi engkau senantiasa menarik lenganku agar aku bisa berdiri kembali
Kadang ku merasa berat beban di pundakku telah melampaui batas
Tapi engkau senantiasa membiarkan ku berbaring diatas pangkuanmu

Menjadi yang terbaik adalah satu-satunya sumber kebahagiaan untukmu
Jikalau aku harus memberikan seluruh sinarku untuk menghangatkanmu, akan ku lakukan
Jikalau aku harus senantiasa berhembus disetiap waktu untuk menyejukkanmu, akan kulakukan
Jikalau aku harus terus-menerus mengalir untuk menyegarkanmu, akan kulakukan
Jikalau ragaku ini harus patah untuk selalu menopangmu, itupun akan kulakukan

Tapi jikalau semua yang kulakukan itu hanya sesaat, dan tak bisa ku ulangi lagi
Apa mungkin hanya penyesalan yang terus menyelimuti diri?
Apakah aku dapat setegar engkau, Ibu?

Aku tak pernah memilih terlahir dari rahimmu
Tapi aku tahu, Allah telah memilihkan suatu rahim yang kuat untukku berlindung dari ancaman dunia diluar sana yang begitu menakutkan
Sering ku perfikir, ku ingin kembali berada di rahimmu dan tak pernah terlahir kembali
Karna aku takut akan dunia ini
Dunia yang nyatanya begitu kelam, sembunyi dari masa silam ku yang kejam
Seakan aku selalu merasa terancam, serasa seperti sebuah anak panah yang selalu membidik ke arahku
Tapi engkau selalu berada disisiku
Dapat membalikkan keadaan hanya dengan sebuah usapan lembut kasih sayang yang melayang dipipiku
Terkadang ku merajuk dan merengek-rengek, tapi kesabaranmu mengalahkan segalanya

Engkau selalu tersenyum dibalik letihmu, Ibu..
Bagaimana bisa ku merasakan kesakitanmu, karena selalu kau sembunyikan dibalik senyuman manismu
Terkadang ku mendengar isak tangismu di kesunyian malam
Dan hati anak mana yang tak tergetar dengan itu semua
Air mata ini mengalir deras mengingatmu
Tapi engkau terus berjalan dengan kokoh walaupun aku tahu hatimu sedang rapuh

Sering kuperhatikan raut wajahmu yang semakin menua seiring beralannya waktu
Sering ku belai halus rambutmu yang semakin hari semakin kusam dan memutih
Pernah ku tatap raut wajahmu ketika engkau terlelap dalam keheningan malam
Sering ku bayangkan bila suatu saat matamu takkan bisa terbuka kembali
Dan aku hanya bisa meratapi disini
Ketika tubuh ibuku telah benar-benar terbujur kaku dan tak terlihat lemah
Ketika tiada lagi sandaran hatiku karena telah tergulai tak berdaya
Ketika tiada lagi usapan lembut yang selalu menyeka air mataku
Ketika teringat segala nasihatmu yang seringkali kuabaikan
Ketika teringat segala nada tinggi yang seringkali ku luncurkan padamu
Hati ini teriris seketika

Ibu.. Akan ku berikan segala yang terbaik untukmu
Agar kau tidak merasa bahwa peluh dan air matamu yang telah menyatu akan menjadi sia-sia
Kemudian memeluk erat tubuhku dengan terbalut deraian air mata bahagia
Engkau telah memberikan kasih sayang tanpa mengharapkan balasan dan mungkin takkan pernah terbalaskan untukku
Walau begitu banyak kekurangan ada padamu dimata orang, tapi engkau selalu sempurna dimataku
Engkau selalu setia mendengarkan jeritan tangis tawa bahagia dan ketika duka lara melanda

Ibu..
Seiring bertambahnya usiamu kini, doaku akan terus mengalir
Semoga engkau panjang umur, senantiasa sehat walafiat dan diberi lindungan oleh Allah SWT
Selalu taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan selalu tabah menjalani hidup ini
Terima kasih telah mendidikku dengan kasih sayangmu
Terima kasih atas segala yang telah kau berikan kepadaku selama ini
Rasa terima kasih ku untukmu tiada berujung, Ibu..
Karena engkau adalah ibuku
Ibuku yang senantiasa ku sayang dan ku cintai, begitu sebaliknya
Ibuku yang cantik, ibuku yang anggun, ibuku yang soleha..
Selamat ulang tahun ibu, aku menyayangimu :') :*




  Ponorogo, 20 Agustus 2014            
ttd                              
  Putri kecilmu yang sekarang sedang tumbuh

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ini bukan mimpi, halusinasi ataupun gigitan jari belaka
Seperti ini kah rasanya berdiri di atas awan
Seakan akan telah menjamah puncak langit tertinggi
Sejajar dengan burung yang sedang mengintai mangsanya..

Ku bentangkan kedua tangan ini ke udara
Ku pejamkan mata dan membuka mata hatiku lebar lebar
Kurasakan bias angin membelai tubuhku
Kudengarkan bisikan deru angin memenuhi ruang telingaku
Kurasakan dinginnya titik embun terperanjat di bulu kuduk ku
Begitu pula kurasakan kekuatan alam semesta
Terpesona oleh segala kuasa Tuhan yang meraja
Memaksa menarikku ke alam bawah sadarku..

Dimana pun mata ini memandang dan menerawang,
Hanya tampak hamparan gelombang awan putih yang memanjakan mata
Begitu lembut bagai kapas putih tanpa noda
Bercorak kan pucuk bukit kecil yang menyembunyikan keberadaannya
Dengan beratapkan langit nan biru,
Dan bermandikan cahaya mentari pagi yang bertaburan
Aku ingin berlarian.. kesana..
Menari-nari di atas awan dari ketinggian
Memandang indahnya lika liku kulit bumi
Memandang indahnya seluruh jagat raya
Dan membuat segalanya terasa begitu nyata..

Fakta nya aku kini bisa menyentuh awan
Tanpa sepasang sayap yang selalu didambakan semua orang
Takkan sampai kakiku menapaki puncak tertinggi ini
Tanpa nafas panjang dan niat lantang yang terus berkobar
Tanpa harap dan keyakinan yang bergema dalam rongga dada
Walaupun terhalang semak belukar yang dapat menjerat luka
Walaupun harus menghalau batuan kerikil yang menjejal jejak kaki
Walaupun harus terus menerus terbalut racun aroma belerang
Walaupun harus memakan waktu yang cukup menguras tenaga
Disini semburan peluh ku yang tersimpan akan kutinggalkan
Letih ku mengajak ku bersimpuh dalam doa yang berdengung
Dan aku mulai sadar, kerja keras memang tak akan sampai hati
Merelakan dirinya jatuh ke dalam jurang pengkhianatan



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tet terett teteeettt.... Happy Birthday reeett!!! :))
Welcome 19!!! Harus seneng atau sedih nih? Bingung soalnya umur bertambah atau malah berkurang -.-
ohh..jadi rasanya gini menyentuh angka 19 dalam hidup. Ketika usia akan mendekati kepala 2. Seakan-akan ini menjadi usia terakhir saat menjajaki masa muda hahaha. Yang biasanya jika udah nyentuh angka 20 an ke atas dianggapnya udah dewasa, udah tua gitu wkwkk. Tapi ini jiwanya masih muda banget kok :D
Aku suka angka 19. Di dalam Islam banyak keajaiban-keajaiban yang melekat pada angka ini. Bisa dibaca disini , disini atau dimana saja bisa kalian temukan. Saya sih cuma bisa berdoa ajalah di usia ini semoga bisa muncul keajaiban-keajaiban dalam hidup saya, seperti dapet pacar mungkin :D
Soalnya kesel juga tiap kali di kampus di ejekin jomblo mulu padahal kan baru jomblo hampir dua tahun (helloo baru jomblo bampir 2 tahun??? udah ngejamur kalee -.-) udah tau umur gak muda lagi, masih tetep betah aja menjalani hubungan sama yang namanya 'lajang' -____-
Apa sih yang salah dengan predikat itu? Trus kalo kita-kita yang sekarang lagi megang predikat itu soo whaaat??? Ga dosa kaaann??? Yakin aja kalo suatu saat Tuhan pasti akan mempertemukan dengan yang terbaik :) Dan doa yg lainnya semoga dapet keajaiban bisa lancar ngejar cita-cita jadi entrepreneur yang sukses nantinya. Aamiinnnn :3

Ucapan terima kasih tetap terlimpahkan kepada Allah SWT yang telah memberi saya usia sepanjang ini, bersyukur atas segala nikmat dan kasih sayang-Nya terhadap saya dan keluarga saya :) Terima kasih ayah, ibuk, mbak yang udah ngasih semangat dan motivasi dalam hidup ini buat jadi yang lebih baik dari kemarin. Terima kasih banyak buat sahabat-sahabat dan temen-temen yang udah ngasi doa dan harapannya buat saya kedepannya. Semoga Allah SWT melindungi kalian semua dan dijabah segala doa-doanya. Terima kasih buat sahabat-sahabat kesayangan yang udah ngasi surprise buat saya sama Putri. Walaupun ulang tahun saya udah lewat dua hari dari hari ulang tahun Putri (tgl 6 des kemaren), tapi kalian tetep ngasi surprise dan doanya buat saya juga hihihi XD

Pokoknya saya akan jalani hidup kedepannya lebih baik lagi deh, janji nggak akan main-main lagi. Belajar yang rajin, biar lancar kuliahnya. Jadi anak yang baik, berbakti sama orang tua, bisa ngebanggain orang tua, nggak nyusahin orang tua lagi huhuhu :') Semoga tambah dewasa, bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah. Sholatnya dikencengin, puasa Senin Kamisnya di rutinin, ngajinya di gas polin.
Intinya i'll do da best fo ma laif deh ya :D tengkyu semuwanyah :*


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
“Aku rindu pada senja dan suara percikan gerimisnya.
Mereka yang mempertemukan kita.
Saat itulah bulir-bulir kerinduan memudar seiring bertemunya dua bola mata kita.”

     Suara rintikan air hujan kini memenuhi isi ruang kamarku. Kubuka sedikit tirai jendela dan kupandangi suasana di luar sana, tampak deras luruhan hujan yang datang. Sepertinya tak kunjung reda. Aku mulai resah. Tetesan air yang jatuh dari langit itu berhasil menyuramkan mataku. Membuatku berfikir dua kali untuk tidak membiarkan tubuh ini merasakan dinginnya cuaca kali ini. Tapi aku tak sanggup. Karena hari ini ada janji penting yang tak ingin kulewati. Terpaksa kuberanikan diri menengok keluar rumah dan melangkahkan kakiku dengan hati-hati. Kubuka payungku yang berwarna merah marun dan kubiarkan memayungi tubuh kecilku. Lengkap dengan sweater putih yang membalut tubuhku bersama baju terusan yang berwarna merah muda. Tak lupa jepit bunga berwarna ungu tua menghiasi rambut panjangku yang terurai lurus. Dengan mengenakan sepatu boot kecilku berwarna hitam aku lekas pergi berjalan menyusuri trotoar.

   Angin pada saat ini sungguh tak bersahabat. Berhasil mengobrak-abrik seluruh dandananku. Kuberjalan pelan sambil sesekali kulihat jam ditangan kiriku. Kini jarum jam menunjukkan pukul 3 sore. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk ku sampai disana tepat pada waktunya. Perlahan namun pasti, hujan kemudian reda seiring perjalananku sampai ke tempat tujuanku.

     Dibawah langit senja kini ingin ku lebur segala rasa rinduku padamu. Setelah sekian lama pertemuan itu tak dapat kurengkuh. Kini tiba saatnya aku menjemput kekasihku kembali. Sendiri, di taman ini ku menunggu. Taman yang sering kami sambangi dahulu saat kami dikelilingi rasa bahagia. Dipayungi lembayung dedaunan yang gugur tepat diatas ubun-ubunku, aku duduk termenung. Merasakan semilir angin yang berhembus. Menikmati setiap tetesan bekas air hujan yang jatuh dari pucuk dedaunan yang  menyegarkan suasana. Sembari menunggu kekasihku datang menyapaku kembali seperti 2 tahun yang lalu. Apakah dia masih seperti yang dulu? Wajahnya yang tampan nan rupawan masih terngiang jelas si memori otakku. Apakah sikapnya masih sehangat dulu? Perhatiannya, kasih sayangnya, belaian lembutnya masih terasa hingga sekarang. Senja mulai berkata, dia masih seperti dulu. Dan ku mulai tenggelam bersama presepsiku sendiri.

     Matahari sedikit demi sedikit mulai menyembunyikan cahayanya. Tetapi kekasih yang aku tunggu-tunggu tak jua menampakkan tanda-tanda kehadirannya.  Rasanya rasa rinduku sudah ingin membludak dari peraduannya. Aku tak sabar ingin bertemu. Aku rindu akan candanya. Gelak tawanya yang menyiratkan sekelumit kebahagiaan. Layaknya rintikan air hujan yang menyejukkan dahaga.

     Tak lama kemudian jatuhlah kembali hujan gerimis tanpa diundang. Entah mengapa rintikan hujan kali ini nampak seperti sedang sirik padaku. Tapi kekasihku belum juga datang. Mungkinkah dia lupa? Mungkinkah dia mengingkari janjinya? Aku tak yakin dengan pertanyaan-pertanyaan yang mencuat dari bilik fikiranku sendiri. Tanpa terasa bajuku mulai sedikit basah karena terguyur rintikan hujan. Kubuka kembali payung kecilku yang ku biarkan tergeletak disampingku sedari tadi. Karena hawa dingin yang mulai menyayat permukaan kulitku,  kubiarkan tubuhku lekas beranjak bangun dari tempat dudukku untuk mencari tempat berteduh.

    Tapi tiba-tiba tampak seorang pria bertopi menarik tanganku. Aku tersentak. Aku membiarkan payung kecilku kabur terbawa angin. Pria itu berhasil memaksaku dan membawaku berlari menyusuri jalan setapak entah kemana perginya. Tak tampak wajahnya karena dia langsung membalikkan seluruh tubuhnya. Aku mulai tegang dan khawatir, tapi entah mengapa hati ini mau mengikuti jejaknya tanpa sebuah perlawanan sedikitpun.

     Aku memperhatikan postur tubuhnya, gerak geriknya, merasakan genggaman tangannya yang sedang menggeret tanganku, sepertinya ada yang aneh. Dia menarik tanganku dengan tergesa-gesa, hingga terdengar suara percikan air yang mengiringi langkah kaki kita. Dinginnya suasana yang merasuk tak sedikitpun merubah hasrat hati ini untuk takut dengan pria itu. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti tepat dibawah pohon beringin dan masih disekitar area taman. Suasana yang hening dibalut dengan suara desir angin dan rintikan hujan gerimis memberiku banyak isyarat. Terdengar bunyi suaranya memanggil namaku dengan berbisik lirih.

“Dinda..!!”, ucapnya.

     Kemudian pria itu menengokkan kepalanya kebelakang dengan perlahan, berbalik badan, dan membuka topinya seraya menatap ke arah mataku dengan tatapannya yang tajam. Apa yang sedang terjadi? Tubuhku yang sejak tadi merasa kaku dan panas dingin langsung mencair seketika. Nafasku yang sedikit tersengal perlahan mereda dengan sendirinya. Aku menghela nafas dalam-dalam dan tak kuasa membendung linangan air mataku. Itu kekasihku, kekasih yang telah lama aku tunggu.

"Sayang?", panggilku dengan nada terkeut.
"Apakah kamu bodoh anak kecil?”, tanyanya sambil memegang kedua lenganku dengan erat.
“Aku tak tau, entah aku bodoh atau tidak. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja yang membenarkan bahwa itu adalah kamu”, sanggahku.
“Bagaimana jika seseorang pria yang menarikmu dari tadi adalah pria yang berniat jahat dan ternyata bukan aku? Apa kamu mau diculik?”, tanyanya dengan nada khawatir.
“Tapi kan sekarang kenyataannya itu kamu kok.. hehehe”, candaku manja.
“Dasar anak kecil..!!” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya dan mengacak-ngacak rambutku.

   Tanpa pikir panjang, langsung ku dekap dirinya dan bergelayut manja dengannya. Kubenamkan wajahku di dadanya dan rasanya kali ini sungguh nyaman. Tak kuasa kuluapkan segala rindu yang menggeliat dalam dada. Aku merasakan sebuah pelukan hangatnya masih seperti dahulu. Rasa sayangku untuk dirinya tak berkurang sedikitpun. Tuhan telah menjawab semua doa-doaku. Kekasihku telah kembali dan memberiku buah manis atas penantian ini. Aku sangat mencintainya dan tak ingin melepaskannya. Tak lama setelah itu, dia membalasnya dengan tersungging senyuman yang menawan dari wajahnya. Kemudian dia membelai rambutku, menggenggam erat jemari tanganku kemudian mengecup keningku. Seakan-akan gerimis di ujung senja ini menjadi saksi bisu kembalinya seorang kekasih hatiku yang sudah 2 tahun lebih tidak bertemu.

     Selama ini kami menjalani LDR. Selama 2 tahun tersebut dia berusaha menyelesaikan studynya di Singapura, dan aku tetap menetap di Indonesia untuk melanjutkan study ku sendiri. Setiap waktu kita selalu berkomunikasi. Tak seharipun terlewatkan untuk kita memberi kabar masing-masing. Awalnya memang menyesakkan, tapi kami mencoba untuk saling percaya dan saling mengerti. Jarak telah mengajariku banyak hal. Tentang kesabaran, kesetiaan, ketulusan cinta dan kedewasaan diriku untuk menjadi sesosok kekasih yang baik. Tak pernah sedikitpun terlintas di fikiranku untuk memainkan perasaannya, membuang-buang waktu hanya untuk bermain api dibelakangnya. Selalu positive thinking juga sangat membantu dalam menjaga hubungan kami.

     Tak bosan-bosannya aku menunggu. Menantinya untuk kembali bersamaku. Aku selalu yakin bahwa dirinya memang tercipta untukku. Kami mempunyai selisih usia dua tahun. Dia yang lebih tua dariku selalu punya cara untuk memanjakanku, membuatku tersenyum dan membuatku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia. Walau banyak perbedaan sering membuat pertengkaran kecil diantara kami, tapi semua itu takkan menggoyahkan hingga akhir nanti. 


"Untuk kekasihku yang telah lama aku tunggu,
terima kasih telah memberi buah manis atas penantianku.
Pada hari itu, gerimis diujung senja."




- The End -

By : RDC



Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Ketika hatiku telah luluh oleh perkataanmu
Ketika ragaku telah lumpuh oleh perlakuanmu
Ketika itu pula mataku hatiku telah buta akan segala yang ada

Buaian mesra yang terucap dari bibir manismu
Secara tajam memaksa menembus imajiku
Bergulat keras dengan emosi diri
Melayang bersama rayuan sang pencuri hati


Mentari tampak cerah penuh dengan gelak tawa
Menyatukan simpul-simpul kebahagiaan
Rembulan tampak bersinar penuh dengan balutan cinta
Menciptakan sebongkah keindahan


Tetapi..Ada  rasa lara yang luar biasa
Ketika kubuka mata hatiku secara nyata
Kusadari itu semua hanya harapan semu
Yang terungkap ternyata harapan palsu


Kau biarkan rindu ini semakin menyiksa
Semakin dalam dan kian merajalela
Puaskah hatimu?
Melihatku terjatuh dalam sketsa permainanmu?


Kau biarkan aku hidup dalam penantian
Tanpa jera mengharap kepastian
Apa kau tau perasaanku?
Melihatmu berlalu kembali pada duniamu


Aku tau ini sungguh keluar dari garis perkiraan
Kau yang kusangka cinta ternyata pendusta
Kau datang dan pergi dengan mudahnya
Dan harapan tinggallah kenangan

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Hatiku tergetar. Tiada satu patah kata pun yang ingin aku keluarkan dari mulut ini. Mulutku membisu sekejap ketika aku memikirkan makhluk Tuhan yang satu ini. Ada suatu hal yang mengusik hari-hariku, dalam diamku, yaitu kamu. 

Apakah kau mendengarkanku? Setiap waktu aku memanggilmu tanpa jeda. Berharap kau mendengarkan aku berbisik lirih menyebut namamu. Apakah kau melihatku? Setiap waktu kubiarkan dua bola mataku menatap ke arah yang sama, aku mengagumimu dalam diam. Apa kau melihatku disini? Merasakan hal sama yang sedang mendera. Berharap kau bisa menangkap tatapanku.

Dimanapun mataku memandang, aku hanya akan melihatmu. Sesekali tak jarang kita saling curi pandang. Tapi apakah saling menatap seperti itu terasa menenangkan bagimu? Mendekatlah. Aku menunggumu untuk memulai.

Aku bertanya pada hatimu. Mencoba menerka apa yang ada di dalam lubuk hatimu. Dapatkah kau bukakan sedikit pintu hati untukku? Aku tak tahu entah berapa bunga yang indah nian diluar sana telah mewarnai kehidupanmu. Dan aku hanya merasa tak pantas untuk mengagumimu, mengharap suatu keadaan yang lebih yang akan terjadi. 

Aku hanya bisa mendamba. Aku tak mungkin meraihmu. Bagaimana bisa aku memilikimu sedangkan kau jauh lebih sempurna daripada aku? Aku hanya tidak memiliki keberanian untuk menyapa dan memanggil namamu, apalagi mendekatimu. Aku hanyalah sebuah bunga yang tampak layu dan tak layak untuk didekati. Aku tak bisa berbuat apapun.

Tertawalah dan aku akan senang. Berbahagialah ketika raga ini tak mampu menyentuhmu, ketika mata ini hanya bisa memandangmu dari kejauhan. Hatiku bercerita bebas tentangmu, apa kau mau mencoba mendengarkan?

Aku suka memperhatikanmu. Menikmati kehadiranmu. Memperhatikan langkah kakimu. Kunikmati bagaimana caramu melintas didepanku. Dengan satu tatapan yang mengarah padaku tanpa sepatah katapun. Apakah kau tahu jika hal itu dapat meluluhkan hatiku? Seringkali aku tersenyum kacau. Salah tingkah ketika mata kita saling bertemu untuk beberapa saat dan saling memandang.

Aku ingin kisah cintaku seperti yang lain. Mereka mempunyai keberanian yang lebih untuk menyapa satu sama lain. Bukan sepertiku yang hanya duduk terdiam sembari menatap dari kejauhan. Hanya harap suatu saat kita dapat duduk bersebelahan dan membicarakan suatu hal dengan tawa melekik.

Aku hanya bisa memendam luka saat rasa ini kupikir benar-benar tak masuk diakal. Rasa yang seharusnya tak pernah hadir menghantui. Pernah sesekali kuingin kembali ke awal. Saat semuanya berjalan seperti biasa tanpa ada secuil perasaan yang datang menghampiri.

Dalam diam semua ini mengalir menuju arah yang tak terarah.  Gerakmu tiada pasti, tapi ku akan terus menunggumu dalam diam. Kapan cintaku datang? Setiap waktu aku menunggu dalam lelap, aku merindu dalam tangis. Akankan dia datang secara nyata? Aku tak mau mengejar mimpi yang tak pasti. Kemanapun kakiku melangkah, terlihat jejak bayangmu yang selalu mengikutiku. Harus berapa lama aku menunggumu?

Setiap malam menjelang, saat itu rinduku meradang. Dengarkan suara hati ini, namamu selalu menggema di setiap sudut langit malam. Memilikimu adalah mimpiku. Dan kugantungkan mimpiku di awan hitam, hingga luruh terbawa air hujan.

Ada secarik doa yang tersirat, yang selalu kutujukan untuk dirimu. Membawa rinduku menyatu dengan hembusan nafas dalam doaku.  Dalam renunganku tentangmu, dalam diamku, kuselipkan puing-puing harapan yang mungkin masih bisa tersusun kembali.

"Cobalah mengerti, didalam diamku ada kamu."

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • Anything
  • Cerpen
  • Dream
  • Family
  • Fiksi
  • Film
  • Food
  • Friends
  • Hobi
  • Islami
  • Lirik Lagu
  • Love Story
  • Motivasi
  • Puisi
  • Resep
  • Seni
  • Tips
  • Wish

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Juni (1)
      • Mengenang Lahirnya Anugerah
  • ►  2020 (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  April (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (12)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (3)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2014 (7)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2013 (35)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)

About Me

Retno Dwi Cahyani
Lihat profil lengkapku

Viewers

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates