Facebook youtube Pinterest Twitter LinkedIn instagram

A Lost Nemophilist

Tentang perempuan dibalik pepohonan yang selalu rindu menyelami hutan kata-kata

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum, teman :) 

       Kebahagiaan dan kesuksesan, dua hal yang paling sering terlihat di media sosial. Walaupun tidak jarang pula banyak yang dilanda kegalauan. Kemarin, sempat ada salah seorang sahabat bercerita. Dia merasa sedih dan gundah gulana karena di medsos dia melihat banyak teman2 nya yang menunjukkan bahwa mereka telah sukses, lancar dalam bisnis dan pekerjaan, telah bahagia menikah dahulu, punya anak lebih dahulu, bisa jalan-jalan kemanapun yang mereka mau dan kebahagiaan2 pada umumnya. Kemudian dia bertanya bagaimana pendapat saya. 

Kita tidak bisa memungkiri selain memiliki sisi positif sebagai media ukhuwah, media dakwah, maupun sumber inspirasi, medsos juga memiliki sisi negatif seperti kejadian diatas misalnya. Hal-hal yang ditunjukkan di medsos dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Manusia lebih sering menuntut kehidupan layaknya manusia umumnya pada Allaah daripada mensyukuri nikmat yang telah Allaah berikan. Saya pun juga pernah mendapat nasihat dari sahabat saya dan menunjukkan kepada saya sebuah hadist, apabila bertemu teman yang lebih sukses, ikuti tips Nabi berikut. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Image result for bahagia
Pict Source: hatajie.com


       Akan lebih baik bila kita mensyukuri segala macam nikmat Allaah mulai dari yang terkecil. Bernafas, misalnya. Karena dengan bernafas kita masih punya banyak kesempatan untukembantu orang dll. Lihat masih banyak orang yang tertinggal jauh dari kita. Kita harus terus bersyukur walaupun sedikit. "Barang siapa yang tidak mensyukuri sesuatu yang sedikit maka maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak" (HR Ahmad). Bukannya su'udzon, mungkin banyak orang yang sukses tapi Allaah tidak ridho dengan dirinya dikarenakan cara menggapai suksesnya yang tidak halal, misalnya. Lain lagi dengan penjual koran keliling, penjaja nasi jagung jalanan, tukang bersih2, atau yang lain, mungkin Allaah lebih ridho karena mereka ikhlas dan lillahita'ala dalam mengerjakan pekerjaan mereka tersebut. Tidak usah bersedih, toh tidak semua kebahagiaan yang ditunjukkan di medsos itu asli kok. Menurut Fran Walfish, ahli psikoterapi (dikutip dari Kompas.com) banyak orang nekat melakukan pembohongan kepada pengikut di media sosial karena mereka ingin menimbulkan kecemburuan dan membuat diri mereka lebih disukai, terutama untuk para mantan dan pasangan mereka saat ini. Muehehehehe :))

     Hal itu pula yang menuntut kita untuk bijak memposting peristiwa bahagia yang sedang kita rasakan. Niat kita sih baik yaa, berbagi kebahagiaan agar semua orang dapat merasakan kebahagiaan tersebut, tetapi kenyataannya malah membuat manusia lainnya kufur nikmat ataupun malah bersedih. Apakah kita pernah menyangka bila ternyata ada segumpal daging yang bernama hati yang merasakan kepedihan apabila kita memposting kebahagiaan yang kita miliki? Karena langit manusia tidak akan pernah sama rata, pasti ada yang mendung, ada yang cerah, ada yang sedang hujan. Tidak semua memiliki apa yang kita miliki. Jadi menurut saya, kita pun harus banyak2 belajar memanajemen kebahagiaan. Saya juga masih belajar menerapkan hal itu. Lebih bermanfaat jika kita share dakwah atau hal2 yang mengispirasi lainnya agar orang2 dapat terdorong untuk menjadi manusia bermanfaat pula, daripada mengumbar kebahagiaan yang alih2 ingin menebar kebahagiaan kepada orang lain, nyatanya malah terdapat mudharat yang tak kita sangka-sangka. Hehe semoga kita semua termasuk seorang muslim dan muslimah yang beruntung karena hidupnya diberkahi kebahagiaan yang melimpah oleh Allaah Ta'ala. Aamiin. Wallahua'lam bisshowab.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
        Bismillahirrahmanirrahim.

       Optimis, semangat, pasti bisa dan berani. Kata-kata tersebut yang akhir-akhir ini selalu terngiang di sela-sela lubang telinga saya. Menembus jauh ke lubuk hati dan menetap sebagai pegangan ketika saya ingin lari. Terkadang raga ini sering lalai karena terhasut oleh keyakinan hati yang belum benar-benar menguat. Kepercayaan diri yang seakan sungkan menyapa hati ini agar mau membukakan pintunya lebih lebar lagi agar lebih berani, membuat raga ini selalu tergetar ketika harus menuangkan kata-kata dihadapan massa. Saya selalu menekankan pada diri ini untuk belajar bisa menghargai diri sendiri dan jangan malu dengan kekurangan yang dimiliki. Bukannya malah bersembunyi dan mengucilkan diri menghabiskan banyak waktu bersama rasa pesimistis yang berhasil mengekang untuk maju.

       Belajar. Belajar bukan hanya duduk terdiam sembari menatap dan menelaah tumpukan buku-buku yang berada di depan mata dengan tangan dilipat diatas meja sekolah ataupun kampus. Saya hanya terus meyakinkan pada diri ini tentang belajar itu bisa apapun, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun. Begitupun dengan belajar menghargai diri sendiri. Karena dengan menghargai diri sendiri kita bisa bergerak maju lebih dari sebelumnya. Kita lebih percaya diri dan mempercayai dengan sepenuh hati bahwa kita memang bisa. 

       Akhir-akhir ini saya sedang berusaha mendongkrak dinding zona nyaman saya. Saya ingin ia tumbang setumbang-tumbangnya. Apa guna dinding yang menjulang tinggi yang terasa nyaman dan bisa melindungi raga ini jika hal itu hanya menahan ruang gerak diri. Sulit memang. Tapi sebuah keyakinan akan menjadi dorongan untuk bisa move on. Bukan hanya move on, tapi juga move up! Tidak bisa dipungkiri akan banyak sekali godaan yang datang silih berganti dan senantiasa menghambat laju jalan ketika kita ingin menjadi jauh lebih baik lagi. Hal itu membuat kita tidak fokus akan tujuan utama yang telah kita tulis di lembar angan kita. Tetapi saya yakin usaha tidak akan menghianati. Allah pun juga telah berfirman untuk meyakinkan hamba-hambanya dalam surat An-Najm ayat 39 yang berbunyi, "dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm: 39)

       Wake up and live!! Semoga kita selalu mendapat ridho dari Allah SWT untuk bisa istiqomah untuk terus lebih baik lagi kedepannya :))
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Seni. Baru-baru ini ayah baru nyadar kalo anaknya yang satu ini demen banget sama yang namanya seni. Mulai dari seni rupa, seni tari, seni musik, sampe seni kerajinan tangan. Saya sukaaaak banget. Gara-gara mainan kertas di gulung-gulung ini, ayah baru bilang kalo saya tu punya jiwa seni hahaha mungkin beliau kebetulan pas lagi suka mainan buatanku ini. Yup, QUILLING PAPER. Itu namanya. Ini juga masih nyoba-nyoba kok. Masih amatiran bangeet. Baru nemuin mainan ini sekitar sebulan yang lalu. Awalnya sih liat-liat di inet kayaknya gampang gitu buatnya. Saya pikir cuma kertas digulung-gulung trus di tempel gitu, ee ternyata ribet juga. Butuh kreatifitas yang tinggi untuk mengkolaborasikan gulungan-gulungan kertas itu biar tampak layak untuk di pajang hehe. Mau coba bikin karya lebih banyak, ntar deh kalo waktu udah longgar :'>


Percobaan pertama mayan deh :D




 Percobaan kedua boleh juga nih :D




Percobaan ketiga woow amazing!! hahaha


MENCOBA TAK PERNAH SALAH, YANG SALAH TAK PERNAH MENCOBA :)))
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ini bukan mimpi, halusinasi ataupun gigitan jari belaka
Seperti ini kah rasanya berdiri di atas awan
Seakan akan telah menjamah puncak langit tertinggi
Sejajar dengan burung yang sedang mengintai mangsanya..

Ku bentangkan kedua tangan ini ke udara
Ku pejamkan mata dan membuka mata hatiku lebar lebar
Kurasakan bias angin membelai tubuhku
Kudengarkan bisikan deru angin memenuhi ruang telingaku
Kurasakan dinginnya titik embun terperanjat di bulu kuduk ku
Begitu pula kurasakan kekuatan alam semesta
Terpesona oleh segala kuasa Tuhan yang meraja
Memaksa menarikku ke alam bawah sadarku..

Dimana pun mata ini memandang dan menerawang,
Hanya tampak hamparan gelombang awan putih yang memanjakan mata
Begitu lembut bagai kapas putih tanpa noda
Bercorak kan pucuk bukit kecil yang menyembunyikan keberadaannya
Dengan beratapkan langit nan biru,
Dan bermandikan cahaya mentari pagi yang bertaburan
Aku ingin berlarian.. kesana..
Menari-nari di atas awan dari ketinggian
Memandang indahnya lika liku kulit bumi
Memandang indahnya seluruh jagat raya
Dan membuat segalanya terasa begitu nyata..

Fakta nya aku kini bisa menyentuh awan
Tanpa sepasang sayap yang selalu didambakan semua orang
Takkan sampai kakiku menapaki puncak tertinggi ini
Tanpa nafas panjang dan niat lantang yang terus berkobar
Tanpa harap dan keyakinan yang bergema dalam rongga dada
Walaupun terhalang semak belukar yang dapat menjerat luka
Walaupun harus menghalau batuan kerikil yang menjejal jejak kaki
Walaupun harus terus menerus terbalut racun aroma belerang
Walaupun harus memakan waktu yang cukup menguras tenaga
Disini semburan peluh ku yang tersimpan akan kutinggalkan
Letih ku mengajak ku bersimpuh dalam doa yang berdengung
Dan aku mulai sadar, kerja keras memang tak akan sampai hati
Merelakan dirinya jatuh ke dalam jurang pengkhianatan



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
     "Raut senyum manis wajahnya masih terbayang-bayang di angan. Aku tak mengerti. Setelah sekian lama, dan hingga sampai saat itu menjelang, aku masih mencintainya sepenuh hati. Tidakkah seharusnya rasa ini telah mati dan sirna dalam hati? Dia telah pergi, dengan meninggalkan secerca harapan dan buaian janji manis yang terucap dari bibirnya. Kenapa hati ini? Kenapa rasa ini? Memaksaku terpojok disudut kerisauan hati. Tak ingin ku terlihat lemah. Tak ingin ku terlihat pasrah. Apakah aku harus berjalan merangkak? Agar kau tak melihat ku terpuruk.  Hingga sekarang, seberkas cahaya pun tak tampak dari  diriku. Dan juga tak mungkin tersungging senyuman dari raut wajah ini.  Hanya tangis..". 

     Menangis disaat terluka itu memang mudah, dan itu otomatis. Tetapi tersenyum dengan ikhlas pada saat-saat itu sangatlah sulit. Butuh hati besar untuk melakoninya. Melupakan semua yang terjadi, mungkin itulah cara yang terbaik untuk saat ini. Dan itulah yang pasti dipikirkan orang lain untuk memberi solusi. Tapi apa yang dibilang orang realistis, belum tentu sama apa yang kita pikirkan. Ujung-ujungnya  kita juga tau mana diri kita yang sebenarnya, dan apa yang pengen kita jalani.  

     Melupakan. Sebenarnya melupakan itu tak semudah yang mereka bicarakan. Semakin kita melupakan, kita akan semakin teringat kembali dan terluka kembali. 
Berfikirlah bahwa senyum itu ibadah. Senyum itu sederhana. Saat kau terluka biarkan bibir ini tetap tersenyum walau itu sulit. Saat kita tersenyum kepada seseorang, pikiran kita akan fresh dengan sendirinya karena keakraban yang sangat terasa dan juga dapet pahala mestinya :D seperti tidak ada beban. Karena untuk tersenyum kita tidak perlu menunggu bahagia. Saat kau terluka, ingatlah pada sang waktu yang semakin hari akan menjelma menjadi penghibur setiamu. Entah itu dari orang-orang yang kau sayangi atau dari orang-orang yang menyayangimu.
Berfikirlah positif, sehingga pikiran-pikiran negatif yang ada di otakmu enyah segera. yeahh





Keep smile and life will be better :")

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Categories

  • Anything
  • Cerpen
  • Dream
  • Family
  • Fiksi
  • Film
  • Food
  • Friends
  • Hobi
  • Islami
  • Lirik Lagu
  • Love Story
  • Motivasi
  • Puisi
  • Resep
  • Seni
  • Tips
  • Wish

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Juni (1)
      • Mengenang Lahirnya Anugerah
  • ►  2020 (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  April (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (12)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (3)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2014 (7)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2013 (35)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)

About Me

Retno Dwi Cahyani
Lihat profil lengkapku

Viewers

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates