Facebook youtube Pinterest Twitter LinkedIn instagram

A Lost Nemophilist

Tentang perempuan dibalik pepohonan yang selalu rindu menyelami hutan kata-kata


Setiap hati yang sedih,  Allaah hadirkan seseorang yang kan tenangkan.
Setiap hati yang terluka,  Allaah datangkan seseorang yang kan sembuhkan.
Setiap air mata yang jatuh, Allaah kirimkan tangan-tangan yang kan lembut mengusapnya. 
Pelan-pelan.. 
Tidak perlu tergesa-gesa.. 
Langitkan segala doa-doa.. 
Bawa diri membaik semestinya.. 
Hingga tak ada lagi hujan bergerimis dimata.
Hingga pertemuan yang tak disangka-disangka benar adanya. 
Tahu-tahu, ada yang hadir dan perlahan waktu berbisik jika sebentar lagi ia kan mengikis segala luka dan menjadikannya tiada. 
Tahu-tahu, ada yang datang dan ia kan menggenapkan segala kurang dan lebihnya. 
Membuat senyum yang mengembang lebih dari biasanya. 
Membuat degup dada bergetar lebih kencang di hari-hari esok dan lusa. 
Hingga akhirnya membuat kita percaya bahwa segala yang dari Allaah itu baik pada akhirnya.
Karena hidup adalah rangkaian kejutan demi kejutan setiap harinya dengan kadar yang berbeda.
Kemudian kita kan meleleh karna cintaNya, oleh sebab Ia telah mengatur segala indah hidup kita sedemikian rupa:')

Tenanglah wahai hati dan jiwa yang bersabar karna utamakan imaan dalam dada...

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku laut biar saja
Yang berdebur-debur sendirian
Percikan-percikan terakhirku yang bertahan di dinding karang
Hanyut mengalun bersama musik-musik tanah
Sudah lama tak jumpa butiran pasir dibawahnya
Yang kini tampak batang hidungnya
Barangkali ada yang menyurutkannya
Cita-citamu kini
Aku laut, biar saja
Lain kali aku pasti pasang lagi


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ada paras-paras jingga menuju kaki langit
Dan matahari dirakit menjadi puisi
Cahaya ditenun
Awan digulung menjadi kain basah
Air matamu tampak tua
Pedih yang tinggal hendaklah ditanggalkan
Menjadi berani adalah tombak jiwa
Kau harus yakin
Kemarau patah
Kemudian tumbuhlah hujan-hujan yang ingin disentuh
Hujan tumpah
Kemudian bangunlah kemarau-kemarau yang semakin memerah
Begitu hidup terus berputar seperti roda-roda dijalanan
Mati terbunuh akan menjadi lumrah
Sebab ada nyawa-nyawa yang berlipat ganda
Sedangkan dari balik jendela, aku masih ingin terus berdengung
Kelak kau akan menjadi basa yang manis
Oh tidak
Tidak kau saja
Aku juga

Related image
Pict Source: mirablue.blogspot.co.id

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Nanti juga kamu paham
Nanti jika kelak jalan-jalan sudah lengang lagi dan pintu-pintu rumah tak tertutup kabut
Rumput dan angin menyatu kemudian menari-nari diatas tanah sebagai panggung hiburan
Seseorang kan merayu hati-hati yang kosong
Ada yang bersembunyi dibalik pohon yang ingin menelan daunnya sendiri
Ada sudah lelah masuk dalam hutan kata kasat mata
Ada yang berlarian menuju alamat-alamat yang tak pernah didatangi
Dan jika tanah lapang menangis menjadi lautan kabar buruk maka dia urungkan niat
Jika nanti sudah tepat waktunya
Mimpi-mimpi sudah tak biasa lagi
Atap rumahmu yang dipenuhi gunung-gunung keresahan akan dia masukkan dalam kotak makan
Ya, dia jadikan menu sarapan yang paling spesial
Berbahagialah 
Biarlah walaupun halaman rumahmu ditumbuhi hal-hal palsu
Nanti juga dia jadikan bekal makam malam


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Disana,
Jauh dari perkotaan yang terus tumbuh jadi hutan beton
Debu-debu semakin berani
Langit-langit mudah menyerah
Ingin tumbang saja
Hujan berhari-hari 
Dan banjir adalah moment paling indah bagi orang-orang yang ingin menyelam dengan sampahnya sendiri
Deru mesin kendaraan berharmoni
Kira-kira, apa yang dikatakan antrian roda-roda kepada tubuh aspal yang seharian mandi matahari? 
Haha pikir saja sendiri
Masih musim kaum urban dan pekerjaan brutal yang tak kenal hari Minggu
Teriakan demonstran di jalanan adalah nyanyian yang terus didengungkan
Kombinasi antara cinta, kesedihan, keterpurukan, amarah dan elegi dalam bait-bait lirik Efek Rumah Kaca 
Perayaan matinya keadilan dan kemanusiaan
Kriminalitas ibarat kanker dalam tubuh
Akhirnya orang-orang lebih memilih makan kabut, 
Daripada makan asap kota
Melarikan diri daripada pelan-pelan mati terbunuh
Kuberi tahu satu hal; gunung-gunung itu akan selalu menjadi tempat pulang paling teduh 
Bagi jiwa-jiwa yang mudah rapuh akibat penyakit jenuh
Berburu keheningan menenggelamkan suara-suara gaduh

Di hari-hari langit senang memuramkan wajahnya, 210118



Image result for gunung di indonesia 
Pict Source: Okezone.com

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Cepat atau lambat
Suka atau tidak suka
Penjarah akan terpenjarah dengan hartanya
Tidur nyaman di ranjang kemanusiaan yang lapuk
Berbantal ego dan memakan bangkai tubuhnya sendiri
Tangisan kaum marjinal; musik favorit paling syahdu
Sekian lama menggenggam jeruji besi
Hingga waktu terus tumbuh dan berbuah kesadaran
Sungguh sudah lama jari-jari mereka tak menyentuh tubuh anak-anak mereka

Image result for korupsi
Pict Source: jadiberita.com
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Disini aku mencerna kehidupan dalam sebuah pikulan
Sesaat setelah takjub mewabah dan berganti kegelisahan
Batas antara mimpi, juang dan kenyataan
Menemukan balasan atas pertanyaan-pertanyaan yang didengungkan
Pemuda pemudi bercanda leluasa
Sedangkan di hamparan ketinggian seperti kamar terisolasi
Ada sosok melambai perih
Mimik-mimik yang gigih
Keyakinan sayup-sayup terlihat dari kornea hitam tertutup kelopak mata yang sesekali menciut
Adalah kaki gunung, sebagai perundak-undakan harapan
Sengal nafas adalah musik alami yang butuh untuk dinikmati
Jangan, jangan kau tanya harus seperti apa perjuangan itu
Gerobak dorong dan keranjang anyaman rotan sudah menjadi saksi
Kapalan di pundak dan kepulan asap yang menggantung dalam rongga dada
Aroma sulfur yang mengakar adalah sesak yang menyenangkan
"Hai tawa! Sampailah pada sulung hingga ke bungsu", katanya


Related image 
Pict Source: Nasional Tempo.co
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Langit biru yang lapang mulai jatuh pada paving-paving pelataran
Horizon menelan diriku mentah-mentah
Wajahku terhapus dari hamparan lautan saat langit menghitam
Membaca sepi adalah hal yang lumrah
Sedangkan malam adalah ruang yang ku bangun sendiri
Tempat yang tepat untuk ku memulangkan pejam dan mimpi-mimpi

Perlahan waktu tak lagi kanak-kanak
Membawaku mengangkat kabut-kabut di kaki langit
Aku terbangun dan menemukan tubuhku duduk di sela-sela jendela 
Membuat pagi tak butuh aroma piccolo dan sesal hari kemarin
Waktu menggubah elegi untuk tumbuh
Dan waktu pula yang menguburnya dengan tangannya sendiri
Sesaat aku paham, semua raga punya cahaya jiwa
Aku; adalah utari dibalik segala prasangkaku
Yang selama ini tenggelam hanya untuk terbit kembali



Related image
                                                                 Pict Source: fr.wikipedia.org
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Masih adakah denyut nadi Indonesia?
Yang negaranya dianggap bianglala
Oleh bandit-bandit bergincu dan berdasi
Mengerek citra setinggi-tingginya
Berlaku elok namun miris bak pengemis
Pewarta menggunjing kepalsuan 
Kejujuran seperti barang haram
Barang haram dianggap obat penenang
Kunang-kunang jantan merayap pada kolong-kolong jembatan saat malam
Menyorot peradaban yang merapuh
Keadilan tak sehangat kemarin sore
Kemanusiaan terusir, tergusur, dan terjajah
Sengal nafas pencari kebenaran dianggap lelucon
Kemudian dihabisilah ia dengan bengis
Dan nyawa-nyawa dianggap uang receh
Ah jelata bagaikan ikan tongkol dimakan kucing-kucing raksasa
Kesenjangan pun seperti makanan biasa
Ah ngeri
Yasudahlah, 
Salam takzim kepada bapak ibu petinggi di pintu-pintu mercusuar dini hari
Kami hanya rindu hati dan nurani yang murni membangun negeri

Doa kita masih sama, mari kita doakan agar semua persoalan di negeri kita terselesaikan dengan damai, negeri kita aman, dijauhkan dari pemimpin dzalim yang menyengsarakan rakyat dan selalu dalam lindungan Allah Ta'ala. Merdeka dengan semestinya. Aamiin Yaa Rabb. 
Dirgahayu Indonesiaku!!

(Mlg, 170817)

Image result for merah putih di atas gunung
Pict Source:  Tribunnews.com
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pagi itu, aku datang
Sedangkan kau memilih pulang
Barangkali kau ingin mengumpulkan hujan
Melihat ilalangmu termakan tandus
Diantara tanah gersang dan kemarau yang dingin
Bersama cemara melintasi kemalangan sendiri 
Dibawah awan-awan yang masam
Melindungi rapuhmu menjadi pecahan air mata yang membeku
Kau lebih memilih menyantap jarak dan meredupkan langit
Hujan; saat itu menjadi bahasa baru 
Kau tak sadar bagaimana ilalang apabila diguyur rindumu
Tumbuh subur dan meluap menjadi lautan detak jantung ditubuhmu

Image result for ilalang di pegunungan
Image Source: yukpiknik.com
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

       Setiap kali pada cinta yang menjalar di setiap sudut kota aku berujar padanya, "ketulusan itu seperti tanah lapang dengan penuh hijau rerumputan yang bergoyang". Benar-benar tiada beban dan menyegarkan. Lihat cinta-cinta yang tamak itu! Lari kocar kacir tak karuan mengejar balasan. Tak beraturan seperti rambut anak-anak muda yang belum disisir. Ada tubuh kekar yang ingin seperti bayi-bayi dalam gendongan, sampai ada lengan yang ingin menjangkau pucuk gedung yang mencakar langit tapi tak sampai. Akhirnya tergulung jatuh, hancur lebur seperti batuan kerikil yang pecah dipijak roda-roda kendaraan di tengah jalanan. Lalu mereka menepuk-nepuk punggung  hingga memejamkan mata.

       Ketika kau bertanya padaku tentang cinta, jendela-jendela rumah akan lebih luas dari biasanya. Pepohonan akan lebih rimbun dari hari-hari kemarin. Kemudian jutaan cinta yang meneduhkan terbang bebas dari dalam rumah. Bebas menukik dan bebas merayap hingga menyusup perut bumi. Lagi-lagi ketulusan akan seperti parfum-parfum mahal yang berjejer di etalase mall. Aromanya semerbak hingga petualang yang hilang menemukan jalannya untuk pulang dengan sendirinya. Dan kini cintaku berubah menjadi angin badai. Berputar pada kolong hati makhluk-makhluk semesta yang belakangan ini mengawasi seseorang yang mendekam dibawah awan-awan hitam yang kelam.






Image result for savana
Image Source: Google
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Angin kesunyian berhembus diwajahmu semalaman

Kabut kota berterbangan lebih lebat dari biasanya
Dingin, 
Kau mengalungkan syal rajutmu sampai menutupi hidung 
Sementara berjalan sambil menyembunyikan jari-jari tangan di dalam saku celana
Kau tahu, malam adalah keangkuhan rasa yang seharusnya meledak tapi tertimbun kebodohan
Kau menyusurinya ketika kau paham bayanganmu sendiri hilang saat malam
Mataku; langit tua yang penuh serpihan-serpihan cerita lama
Aku ingin tahu, apakah setiap malam kau diam-diam bergegas membacanya seakan tak pernah tuntas?
Dingin,
Telah merengkuh tubuh dan pelan-pelan merasuki hatimu lebih jauh
Kau menyembunyikan diri dan menggugurkan daun-daunmu sendiri
Sedangkan dari pekarangan rumah, aku melihat hatiku serupa tanaman liar yang tumbuh subur dan tak berjamur
Mengawasimu dari kejauhan seperti tindak pidana yang mengubah rasa menjadi hukuman
Kemudian aku menemukanmu pada bangku-bangku kosong di tepi jalan
Membangun kenangan ketika semua orang sibuk melupakan
Membakar lamunanmu yang sudah menjadi ladang memenuhi trotoar
Dingin,
Tatapan matamu ku hirup dalam-dalam ditengah lambaian angin malam
Lalu aku melihat masa depan seperti gigil yang meleleh di jalanan dan tertelan seduhan secangkir kopi hitam


                                                                                                               Image source: Google


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku kagum pada setiap keberanian hidup
Kau seperti alam yang terus bernyanyi dan menggantungkan masalah hanya diujung jempol kaki
Langitmu berayun menikmati nyaringnya sambaran petir di pucuk-pucuk dedaunan
Dan segala kepedihannya ditebang oleh kata-kata yang kokoh menjadi puisi
Ribuan kali gemuruh ombakmu bergulung dan pecah dibibir pantai
Seperti sesak yang tak tertahankan dan kau bisa merengek sejadi-jadinya
Nyanyian yang luar biasa, ajaib! Bebanmu hanyut!
Lalu aku menciut diantara keberanian nyanyian alam mu


Aku kagum pada setiap kekuatan hidup 
Hujan pilu pernah berujar ketidak terimaan di pelataran hatimu
Namun gemericiknya mampu merenggut kapas awan yang kelabu menjadi tiada
Terhempas dibumi yang keras namun sepasang senyummu mengalihkan segalanya
Lembayung senja diatas permukaan laut pun lamat-lamat membumi tanpa takut
Mulai gelap, namun cahaya bulan berkuasa atas langit-langit
Aku berkaca padannya dan dinding korneaku dilarang berkaca-kaca
Sekalipun nyanyian indah kenangan berubah menjadi nada-nada geram
Atau hati lebih memilih dianestesi?
Tidak, jangan!


Bagaimana dirimu lihai melakukannya?
Lagu alam mu tak berhenti seperti memakan karet pentil yang tak habis digigit
Kau pun berdiri diujung candamu serupa semangat yang berserakan dibawah pohon rindang 
Burung-burung sebagai temanmu terus terbang dan berlarian mengejar angin yang bersyair
Mimosa berbisik, "jangan malu-malu seperti diriku"
Dan kupersilahkan kau menjadi cerita dalam kaset yang pitanya bergulung dalam dadaku
Ingin ku putar dan terus ku putar hingga soreku memberanikan diri menemui pagimu


                                                                Image source: Google

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Harus kunamai sebagai apa?
Pecahan diriku yang dinilai pusing dan membosankan bagi kaum Millennial?
Kepingan semesta dalam diriku yang berbicara hingga kuping mereka menjadi bengal
Udara lembab dan mata sembab yang menyatu dalam butiran sajak satire
Pagi yang cerah dan malam yang bergairah, apa bedanya?
Aku bebal, tak segera ku temui jawaban
Di bilik usang tempatku berpulang 
Terasing di celah remang-remang dengan ribuan jejak kaki kawan
Meneguk lembaran kisah pribumi pengagung Eropa di "Bumi Manusia"
Hingga membabat habis keganjalan dikehidupan "Orang-Orang Bloomington"

Sesaat kita merangkul dunia yang mustahil kita sentuh seperti menggenggam udara
Kita tidak melihat, akan tapi kita begitu merasa
Lalu waktu berputar dan terlihat begitu sadis
Menenggelamkanku dalam musim berkabut yang tak lagi tipis
Lihat!! Layar handphone berkedip dengan pintarnya dan segera aku dimakan habis
Langkah kaki melirih serupa sepi yang menyusup pada dinding-dinding dan menjadi dingin
Dahaga merapuh seperti tak akan haus kembali
Waktu begitu sempurna sedangkan manusia lebih memilih egonya
Berpendar dalam pengetahuan yang tak utuh seperti menikmati hidangan sehari-hari
Hhhh.. 
Mungkin tanda tanya yang kemudian akan mencangking mimpi-mimpi kecil kembali kemari 
Menemukan hutan, lautan, dan jalanan dalam kerut dahi yang paling mengasyikkan


                                                                                                              Image source: Pinterest



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pagiku kini bermata teduh
Menahan jendela kayu menghasut sinar-sinar mimpi untuk lari tanpa jenuh 
Bukan lari dari segerombolan semut-semut hitam yang mengerumuni jari kaki-kaki kecil
Namun lari melewati bebatuan tajam yang bertebaran dibalik rerumputan di padang savana diatas kerikil-kerikil kecil 
Kemudian pagi bermata teduh merasukiku sebagai mekar-mekar bunga seribu warna
Keharuman teguh menyapa hingga sesaat sebelum putik bunga mahkota terlepas dari singgasananya
Meyakini cita dan cinta akan datang dalam suatu cerita
Hidup dalam hidup berbadan labirin yang berlika-liku
Dimana ujungnya? Tiada yang tahu
Menerka, menerka dan menerka celah bergema kebahagiaan yang bukan semu
Karenamu langit mengharu biru, saat senja berubah berganti ungu
Dan senyummu adalah daun pintu
Membuka pagiku yang teduh penuh rimbun doa ibu



Image result for garden tumblr
Image Source: Google
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kau, 
Adalah sebuah lukisan yang tak ku kenal dalam diriku
Menjelma potret alam dinding-dinding arteri
Terpatri di setiap mimpi dalam tidur
Tubuhmu tergerak lambat laun
Seperti hawa dingin menyelinap di bawah pintu sel-sel darahku
Dirimu duduk bersila diujung degup jantungku
Menyeduh secangkir kopi hangat berasap keringat
Menyimak sebuah nama mengudara
Dalam igauan malam berkepanjangan..

Kau, 
Adalah pertanyaan-pertanyaan yang selalu aku dengungkan
Menjelma bising yang tertawan gendang telinga
Mengejar kepastian yang mengangkasa dalam awang-awang
Tubuhmu lalu berputar
Menukik, kemudian menuju langit ruang
Dirimu berdiri diujung sengal nafasku
Bersua dengan wajah gundah menengadah
Berjalan menemukan kemungkinan-kemungkinan
Di bilik roman puan yang nyaman merindumu..

                                                                                                           Image source: Google
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hawa dingin semakin nanar
Memori semakin liar
Apa itu rindu?
Haha, semesta berpihak padaku
Angin sibuk menampar dedauanan berparas wajahmu semalam suntuk
Langit adalah raksasa jingga sebagai atapnya tanpa pernah mengernyit
Kamu, kebebasan yang menggoncangkan
Sosok efemeral yang janggal
Tak sungguh aku kenal namun terus mencekal akal
Jauh dari nalar
Tak sadar, terus mengejar
Bagai elok Lembah Mandalawangi yang kucintai sebelum ku temui
Dan kediaman adalah kegilaan dibawah malam penuh bintang yang kegirangan


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kepada rintihan bebatuan padas yang disangka karang
Kepada sembab luka puluhan kelomang yang tak kunjung ramah
Kepada jari-jari di padang lamun yang mulai dingin
Alam pun mulai bergegas
Berkemas memulangkan dahaga yang mulai gelisah
Mencuri setiap kelembutan awan Cirrus
Membumi dengan ombak kidal di Pantai Lakey
Paling dasar, tapi sekali lagi ia bermata perak
Rupa-rupa tak bernyawa namun sarat akan makna
Melindungi jejak-jejak sajak buaian dorongan bisu yang paling abadi


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sapalah, hingga putik bunga mahkota terlepas dari singgasananya
Sapalah, hingga rona senja memudar sesaat sebelum pekat petang tiba
Sapalah, hingga puing dedaunan berguguran manja tersapu angin malam
Sapalah, hingga nyayian indah kenangan berubah menjadi nada-nada geram

Adakah setitik cahaya remang yang dapat menuntun kawanku menghindari halusinasinya. Bahkan untuk berharap mendapat setitik cahaya terang pun ia merasa tak pantas. Ia bukan lari dari segerombolan semut-semut hitam yang dengan semangatnya mengejar dan merubung jari-jari kaki kecilnya. Tetapi ia berusaha lari melewati bebatuan dan kerikil-kerikil kecil yang bertebaran dibalik rerumputan di padang savana. Acapkali ia berpikir kedua kalinya untuk kembali memutar roda kehidupan seperti sebelumnya. Yang kerap merajam sekujur tubuhnya ketika hal itu terbayang dan melintas di sela-sela memorinya. Ia lelah mencari wadah yang dapat menjulai menghapirinya untuk ikut merasakan pahit getirnya janji yang termakan waktu. 

Terkadang ia pun mengaburkan retorika indah cinta yang datang dari ribuan pengembara cinta yang sudah mahir menyantap asam manisnya lagu rindu. Persis seperti nada-nada sumbang yang meminta izin pada daun telinga untuk memaksa menembus lubang telinganya, ia mengabaikannya. Ketika sang mentari menjenguk keberadaannya, sontak ia bersembunyi di tengah pekatnya kabut pagi. Hingga sang petang menyelimuti, ia tetap kukuh atas pengharapannya bahwa sang mentari tak kan pernah berseri kembali. Ia tampak muram dan masih terkekang dalam lamunan, bagai raut wajah para pesakitan. Sungguh, berulang kali ia berfikir bahwasanya mendua dengan sunyi beribu kali lebih nyaman daripada hanya sekedar mengejar bayang-bayang ilalang yang selalu setia menghalangi pandangan.

Teringat kala ia mencoba memetik dawai asmaranya satu-persatu, terciptalah alunan rasa bahagia yang tiada tara. Terbelenggu bias asa dari paras pemuda beserta janji-janjinya. Terbuai sajak berirama surga sang pencuri kalbu, yang sejatinya tiada pernah tertuju. Hingga dentang waktu kian berpacu dan mengubah indah cinta dalam sukma menjelma kobaran api dalam neraka. Rancu, semua jadi satu. Berbagai rasa yang campur aduk menyandera derita dan ia tak sanggup melepaskannya. Rasanya kini dunianya tak seperti biasanya. Pintu hatinya telah berdiri kokoh, tertutup dan tertancap sebuah kunci tembaga dari balik daun pintu itu. Apapun yang dilontarkan oleh sinaran mentari, bulan dan bintang yang menghangatkan pun dihiraukan. Ia yakin semua itu hanyalah sebuah pentas parodi yang berisikan berbagai macam adegan. Hanya permainan. Tak tulus. Fiktif belaka. 

Ya! Itulah hak Sang Pemilik Langit. Membolak-balikkan hati manusia tuk meyakinkan tentang teguh tidaknya hati seseorang atas keimanannya. Seakan Dia ingin menunjukkan bahwa pengharapan pada sesama manusia hanya bisa mematahkan hati banyak jiwa. Dan kembali pada-Nya adalah jalan terang satu-satunya tuk dapat mengarungi saat-saat kelam menyapa. Yang kelak dapat menuntunnya untuk merapikan puing hatinya yang telah lama berserakan. Hingga saat ini, jemari manisnya tak henti mengusap halus pipinya yang ternoda air mata. Suara lirih sesenggukan timbul dari balik lorong kerongkongannya. Dan ia terus berlari, bagai lari ditengah lapangnya gurun sahara tuk mencari setetes embun pagi.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kali ini ingin ku serukan segala sepi dan gundahku. Karena sunyi sepiku tiada yang tahu. Perihnya selalu membuat hati ini tersayat sembilu. Sepi, selalu kunikmati tetapi terkadang kumaki. Seringkali ku ingin di dalam keadaan yang benar-benar sendirian. Bersembunyi dari hiruk pikuk keramaian kota yang memekakan telinga. Tanpa seorangpun yang dapat mendengar sesenggukan piluku. Tak jarang pula sepi ini selalu ku sesali dan ku maki. Karena ku merasa terabai oleh segala sesuatu yang berlalu lalang  di depanku tanpa suatu sapaan yang berarti. 

Ku coba enyahkan segala kegundahan, tetapi malah meradang dan sakitnya hanya kutahan. Di pangkuan malam sepi, ku teteskan bulir-bulir kesunyian yang mungkin takkan pernah teralirkan. Yang nyatanya hanya tersendat dalam kubangan harapan. Kemudian sepi ini masih terus mengelabui dan semakin akrab dengan hari-hariku. 

Ku menatap kekosongan dalam keheningan malam. Dan hanya segenggam hampa yang tertangkap. Aku tak akan pernah berlari mengejar sesuatu. Ketika ruang gerakku terhimpit oleh keadaan yang tak pernah benar. Keadaan selalu saja membawaku ke posisi yang salah. Ragaku tak pernah berani menuju keluar zona nyamanku. Yaitu sepi. Bahkan bila aku benar benar sendiri dalam sepi, aku akan tetap bertahan. Karena ku sudah bosan berdebat dengan ego ku.

Ku biarkan sang bulan dan bintang  mengintip samar, untuk mengulurkan sekelumit cahayanya. Tapi entah mengapa mereka malah berlarian. Seperti enggan menyelimutiku dari dingin nya angin malam yang meraba. Aku ingin mereka membawa lari seluruh lukaku. Aku ingin mereka tahu betapa pedihnya kini ku terperangkap dalam kesunyian. Ya, mungkin aku hanya cemburu pada bintang yang selalu menemani sang bulan.

Dibasuh lirih semilir angin malam. Hanya terdengar sayup bait nyayian tentang kesunyian. Ragaku gontai menyusuri akar permasalahan yang tak pernah lelah menggerogoti sisa-sisa gelegak tawaku. Walaupun begitu, ku tak akan pernah mengasihani diriku sendiri. Karena aku yakin bahwa diriku akan kuat melawan sepiku ini. Aku senantiasa yakin disuatu saat nanti, kan datang hari itu. Ketika seseorang datang untuk menyudahi masa suramku, seseorang yang hendak mengobati segala lukaku di kemudian hari, dan seseorang yang datang untuk membagi rasa semangat yang ada pada genggaman tanganya untuk melanjutkan masa depan bersamaku. Saat itulah senyumku kembali merekah dan hidupku akan kembali cerah. Aamiin ya Allah:')

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Categories

  • Anything
  • Cerpen
  • Dream
  • Family
  • Fiksi
  • Film
  • Food
  • Friends
  • Hobi
  • Islami
  • Lirik Lagu
  • Love Story
  • Motivasi
  • Puisi
  • Resep
  • Seni
  • Tips
  • Wish

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Juni (1)
      • Mengenang Lahirnya Anugerah
  • ►  2020 (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  April (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (12)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (3)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2014 (7)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2013 (35)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)

About Me

Retno Dwi Cahyani
Lihat profil lengkapku

Viewers

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates