Masih adakah denyut nadi Indonesia? Yang negaranya dianggap bianglala Oleh bandit-bandit bergincu dan berdasi Mengerek citra setinggi-tingginya Berlaku elok namun miris bak pengemis Pewarta menggunjing kepalsuan Kejujuran seperti barang haram Barang haram dianggap obat penenang Kunang-kunang jantan merayap pada kolong-kolong jembatan saat malam Menyorot peradaban yang merapuh Keadilan tak sehangat kemarin sore Kemanusiaan terusir, tergusur, dan terjajah Sengal nafas pencari kebenaran dianggap lelucon Kemudian dihabisilah ia dengan bengis Dan nyawa-nyawa dianggap uang receh Ah jelata...
Pagi itu, aku datangSedangkan kau memilih pulangBarangkali kau ingin mengumpulkan hujanMelihat ilalangmu termakan tandusDiantara tanah gersang dan kemarau yang dinginBersama cemara melintasi kemalangan sendiri Dibawah awan-awan yang masamMelindungi rapuhmu menjadi pecahan air mata yang membekuKau lebih memilih menyantap jarak dan meredupkan langitHujan; saat itu menjadi bahasa baru Kau tak sadar bagaimana ilalang apabila diguyur rindumuTumbuh subur dan meluap menjadi lautan detak jantung ditubuhmu Image Source: yukpiknik.com ...