Facebook youtube Pinterest Twitter LinkedIn instagram

A Lost Nemophilist

Tentang perempuan dibalik pepohonan yang selalu rindu menyelami hutan kata-kata

Kamis, 4 November 2010

Jantungku berdetak kencang. Darah ini berdesir, mengalir ke seluruh tubuh dengan cepat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini adalah detik-detik menuju pergantian waktu yang akan menuju pada hari jadi kita yang ke tiga. Apakah dia masih mengingatnya?  Entahlah.

Kupikir tidak. Mengingat dia tak lagi seperti yang dulu. Akhir-akhir ini dia selalu menghilang tiba-tiba. Tak menampakkan batang hidungnya dan tak mau menghubungiku lagi. Memang aku juga sering seperti itu, sering menghilang tiba-tiba, dan kadang aku suka malas kalau mau pergi sama dia. Tapi aku belum separah itu. Apakah dia balas dendam sama aku??

Aku benci jika dia terus seperti itu. Membiarkan aku sendirian dalam gelap malam, saat tak ada cahaya bintang yang terang. Hanya suasana dingin yang mencekat seluruh nadiku. Dan kini terdengar suara rintik hujan membasahi genteng rumahku. 

Tiga hari yang lalu adalah percakapan kami yang terakhir. Setelah sekian lama tak jumpa dan tak bicara. Ku coba menelponnya terlebih dahulu karena aku tak tahan dengan keadaan ini, kemudian dia mengangkatnya. 

“Halo sayang, apa kabar?”
“Baik, ada apa sayang?”
“Kamu kemana aja akhir-akhir ini? Aku kangen sama kamu”
“Iya sayang aku juga kangen, tapi ini aku lagi latihan sama anak-anak. Nanti aku telpon balik ya, bye”
“Tuuuutt..tuuuuutttt..”
“Iya…”  Hanya suara lirih dan sayu yang dapat aku ucapkan.

Sakit hatiku rasanya. Seperti melayang saat dia angkat telponku, dan langsung dihempaskan secara tiba-tiba saat dia menutup telponku terlebih dahulu. Ya! Seperti itulah dia yang sekarang. Sering menutup telponnya secara tiba-tiba dan tanpa basa-basi.

Ternyata dia sibuk dengan dunianya.  Dunia yang seakan ingin dia kejar dan meninggalkan aku sendiri disini. Dia lebih memilih bersama teman-teman band nya daripada aku. Mengapa dia mencampakkan aku? Keadaan ini sangat tak ku harapkan. Kemana dia yang dulu? Apa iya dia sudah tak mencintaiku lagi dan telah memiliki wanita idaman lain? Atau apakah dia sedang frustasi karena masalah keluarganya yang tak memperhatikannya? Ribuan pertanyaan telah keluar dari anganku hingga meluap dan tak kunjung ku temukan jawabannya. Pada akhirnya aku mulai bosan. Bosan dengan ketidakpastian. Aku benci. Benci dengan keadaan yang seperti ini.

Ya! Dia memang anak saudagar yang kaya raya. Tetapi orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri. Sekarang ini dia tinggal di rumah sendirian dengan ditemani seorang pembantu. Walau dia seorang yang kaya raya, dia tak bisa mencampakkan aku begitu saja setelah 3 tahun dia menemani hari-hari ku. Menjalani hari-hari indah berdua. Dan tak ada tangis luka yang kurasa. Dia yang selama ini periang dan selalu semangat menjalani hari-harinya denganku, kini bagaikan orang lain yang menarik diri dariku. 

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Waktu telah menunjukkan pukul 00.00 tepat. Handphoneku tetap di atas meja dan tak berbunyi sedikitpun. Aku tak mau menyentuhnya. Biarlah. Terserah dia mau apa. Aku hanya bisa berdiri menatap jendela. Yang terlihat hanyalah bulan sabit yang tampak redup seredup hatiku. Aku mulai berjalan dan berbaring kembali ke atas ranjangku. Dengan harapan kosong yang telah membuatku kacau. Dan mataku mulai terpejam.

Tiba-tiba nampak dari kejauhan, handpone yang sejak dari tadi aku biarkan tergeletak di atas meja belajar yang agak jauh dari ranjang tidurku berbunyi. Dengan keadaan yang sempoyongan karena sudah mulai lelah dan mengantuk, aku berjalan ragu. Tak ingin itu semua hanya harapan palsu. Aku melihat layar handphone ku dengan seksama. Dan apa yang terjadi? Dia menelponku. Antara bahagia dan benciku campur aduk jadi satu.

Ku angkat telponnya dengan perlahan, terdengar suaranya dari ujung sana.

“Selamat malam sayangku, kamu belum tidur ya?”
“Iya, aku belum tidur, kenapa?”
“Kamu nggak ingat ya ini tanggal berapa?”
“Iya ingat, ini tanggal 5 November kan?”
“Tepat pada tanggal ini kan kita genap 3 tahun sayang, kamu lupa?”
“Ingat banget, dari tadi aku tungguin telpon kamu. Tapi kenapa baru telpon sekarang? Kamu sekarang udah berubah ya, nggak kayak dulu lagi! Kamu udah jarang nelpon aku, tiba-tiba ngilang gitu aja dan sekarang, tahun-tahun kemarin kan biasanya kamu ngucapinnya jam 12 tepat, kenapa hari ini baru jam 2 kamu telepon? Aku nggak ngerti ya apa yang ada dipikiranmu! Nggak punya perasaan banget sih kamu! Apa kamu sudah bosan? Apa kamu sudah punya wanita lain selain aku? Ha?”
“Maaf sayang, aku sayang banget sama kamu, jaga diri kamu baik-baik ya? Aku mencintaimu”
“Tapi…”
“Tuuuutt..Tuutt”

Kejadian yang sama terulang kembali. Telepon yang terputus secara tiba-tiba. Aku heran. Aku mencoba untuk menelaah dan memahami perkataannya yang terakhir kali pada percakapan kita berdua tadi. Ada yang aneh pada suaranya, tampak lirih dan terbata-bata. Apa yang terjadi padanya? Dan kegelisahanku mulai muncul. Ada apa ini? Mengapa semua terjadi seperti ini? Sudah banyak pertanyaan yang muncul dari benakku. Yang kini telah meluap dan aku tidak mampu menampungnya lagi. Aku ingin penjelasan darinya. Aku lelah, hingga ku terlelap dengan semua pikiranku.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 6 November 2010

Pagi harinya sekitar pukul 8 pagi aku siap-siap menuju rumahnya sebelum kebencian ini memuncak. Entah kenapa tubuh ini seakan memberi dorongan agar aku secepatnya kesana. Segera ku keluarkan motorku dan bergegas pergi.

Setelah sampai di rumahnya, aku tak tahu apa yang terjadi. Rumahnya tampak sepi dan tak berpenghuni. Hanya seorang pembantu rumah tangga yang tampak sedang menyapu halaman rumahnya. Segera ku hampiri dia dan bertanya.

“Selamat pagi mbok.."
"Selamat pagi non.. Mbak mau cari siapa ya?"
"Tritan nya ada mbok?” 
"Maaf kalau boleh saya tahu, non ini siapa ya? Kok baru mencari mas Tritan?"
"Nama saya Nila mbok, pacarnya Tritan. Tritan nya ada?"
"Loh.. non Nila ndak tahu ya, mas Tritan kan sedang di rawat di rumah sakit deket sini non. Selama ini mas Tritan sakit kangker paru-paru,  akhir-akhir ini keadaannya drop sekali dan akhirnya dia tak mampu lagi bertahan dan masuk rumah sakit deket sini. Kasian mas Tritan. Dia sakit keras seperti ini tetapi keluarganya tidak ada yang tahu di rumah sakit. Mas Tritan ndak pernah cerita sama non kalau dia sakit?” 

Perkataan simbok barusan membuat memoriku mau tak mau kembali pada minggu-minggu kemarin. Aku baru memahami apa yang selama ini terjadi.  Ya Allah, mengapa Kau biarkan semua ini terjadi pada kami? Aku sama sekali tak mengerti. Tubuh ini kaku, terasa panas dingin seketika. Nafasku tercekat, tak dapat ku berbicara satu kata pun. Jantung hatiku terasa tertembus peluru panas hingga ingin ku terjatuh dan tak mampu berdiri lagi. Batinku tergoncang mengingat perkataan simbok. Aku tak kuasa membendung air mata ini. Yang perlahan menetes dan ku genggam tangan ini dan ingin ku teriak sekencang-kencangnya. 
Kuhela nafas, kupejamkan mata. Tanpa sepatah kata pun ku tinggalkan simbok sendirian, kemudian aku segera berlari  mencari  rumah sakit yang dekat dengan rumah Tritan.

Ini dia Rumah Sakit Raya. Tak terasa peluh dan air mataku telah menjadi satu.  Segera ku cari ruang pasien bernama Tritan di rawat. Dan ternyata dia dirawat di ruang bernomor 305. Ku berlari kemudian kutemui ruang 305.

Perlahan kubuka pintu kamar tersebut. Betapa pilunya hatiku ketika ku melihat di sudut kamar itu, terlihat sebuah ranjang besar  dan diatasnya tergeletak seorang lelaki yang sangat ku cintai dan terpasang sebuah selang infus di tangannya serta alat bantu nafas yang ada di hidungnya. Lelaki tegar dan kuat yang selama ini menderita kangker paru-paru, mampu menjalani hidupnya tanpa keluarga dan tanpa seorang kekasih yang mendampinginya. Serta tanpa seorangpun yang memberi  perhatian padanya.

Perlahan dia membuka mata, dan menemukanku berdiri disamping pintu dengan linangan air mata yang tak dapat terbendung. Sesak hati ini. Ingin ku tampar wajahnya, ingin ku pukul badannya, tapi ku tak kuasa. Hanya isakan tangisku yang mendera. Langkah demi langkah ku dekati dirinya. Dia tersenyum. Dan malah membuat hatiku semakin kacau. Mengapa dia setegar itu? Mengapa dia tak menceritakan semua yang di deritanya kepadaku? Perlahan tangannya pun bergerak dan mulai menyentuh jemari tangan kananku. Menarik tubuh ku hingga tepat di sampingnya.

Ku belai rambutnya, ku sentuh matanya, ku sentuh hidungnya, ku sentuh pipinya. Dia masih setampan dulu walaupun kini wajahnya sudah mulai pucat, bibirnya yang memutih dan tatapan matanya tak setajam dulu. Tak terasa setetes air mata jatuh mengalir di tanganku. Pipinya berlinangan air mata. Dan sambil tersenyum, dia mencium tanganku.

Ya Allah ya Tuhanku, aku tidak kuat menahan gejolak batin ini. Aku ingin semua kembali seperti dahulu. Aku pun mulai mengingat apa yang telah terjadi selama 3 tahun ini. Ketika kita pertama kali bertemu di warung es teller. Saat-saat dia yang menolongku membayar es teller yang telah ku makan karena saat itu aku tak membawa dompet, masa-masa dia PDKT sama aku, saat kita jadian tepat pada tanggal 5 november kemarin, saat-saat kita menjalani hari-hari bersama karena kita satu kampus, saat dia menyanyikan sebuah lagu romantis untukku dengan gitar kesayangannya, dan saat-saat aku dan dia pergi kemanapun yang kami mau.

Akupun juga teringat dengan segala ke egoisanku, menyesali segala kebiasaan ku yang memang pencemburu berat dan menyesali segala yang terjadi karena aku belum bisa memberi perhatian lebih padanya, sampai-sampai aku sama sekali tidak mengerti dengan keadaannya, serta mengingat ucapan yang terakhir kali ku ucapkan padanya. Itu sungguh kasar. Aku pikir aku telah melukai hatinya, dan berprasangka sangat buruk padanya. Itu semua terlintas dalam anganku secara tiba-tiba tanpa ku sadari. Aku sungguh menyesalinya.

“Sayang?”

Kemudian terdengar suara lirih yang memanggilku ‘sayang’ membangunkan aku dari lamunan penyesalanku. Kupandangi wajahnya dan kutatap matanya, dia kelihatan bahagia melihatku disini. Tapi berbanding terbalik denganku, rasa ini sudah tidak karuan, pikiran kacau dan tak dapat lagi ku mendeskripsikannya.

“Sayang, kamu nggak papa?”
“Iya aku nggak papa. Seharusnya aku dong yang tanya begitu sama kamu. Kamu nggak papa?”
“Coba kamu lihat, aku nggak papa kan? Aku kuat kok. Maaf ya.. Aku tidak pernah membicarakan ini semua padamu”
“Sudah, kamu jangan banyak bicara. Yang harus kamu lakukan cuma istirahat yang banyak, makan yang banyak, trus minum obat yang teratur. Aku yakin kamu pasti sembuh sayang. Aku juga maaf karena aku kurang perhatian sama kamu, sampai-sampai aku tak tahu keadaanmu yang sebenarnya. Aku sayang kamu”

Dan dia membalas perkataanku hanya dengan tersenyum. Di tengah percakapan lirih nan singkat kami, tiba-tiba dia sesak nafas dan seketika itu aku panik. Dalam keadaan seperti itu dia masih mampu berkata lirih sambil menggenggam erat tanganku.

"Jarak bukanlah alasan untuk kita saling melupakan sayang, namamu akan slalu aku jaga di hati sampai akhir hayat ini. Aku mencintaimu”

Suasana hening seketika. Tiba-tiba aku melihat tubuhnya tergetar, perlahan matanya tertutup, dan kurasakan hembusan nafasnya perlahan ikut memudar. Tangannya yang sebelumnya sempat menggenggam kencang tanganku, perlahan lemas dan tergolek dengan sendirinya. Akupun tak bisa menahan ini semua. Aku tak percaya segala yang telah terjadi dihadapanku. Mengapa dia pergi secepat itu? Mengapa dia pergi tepat di depan mataku? Apa yang harus aku lakukan?  Aku pun teriak.

“Dokter…!! Dokter…!!”
“Sayang, bangun! Kamu mau kemana? Aku tak ingin kamu  pergi.. Kembalilah! Buka matamu..!! Bukankah kamu janji akan menikah denganku kelak. Bukankah kamu berjanji kamu kelak akan menjadi ayah dari anak-anak ku. Mana janji-janjimu yang akan terus disampingku??”

Walau dalam keadaan seperti itu, sepertinya ingin ku tagih semua janji-janjinya yang telah dia berikan kepadaku. Aku menjerit, aku menangis sejadi-jadinya. Melihat tubuh kekasih hatiku yang sudah tak berdaya lagi, wajahnya pucat dan nyatanya dia telah pergi untuk selama-lamanya dengan senyuman yang tersungging dibalik wajah pucat pasinya. Mata dan fikiranku belum bisa mempercayainya. Kini dia telah pergi jauh meninggalkanku.

"Sayang, terima kasih telah memberi warna baru bagiku, walau akhirnya kudapati dirimu jauh meninggalkanku lebih dulu dan menjadikan hariku kelabu. Tapi aku yakin seperti kata orang bilang, jika pertemuan adalah awal dari perpisahan maka perpisahan adalah awal dari sebuah pertemuanku denganmu di alam sana, sayang. Tunggu aku di surga, sayang. Aku akan terus mencintaimu".

Aku bergumam dalam isak tangisku. 

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 6 November 2011

1 tahun kemudian.

Aku telah menjadi pribadi yang baru. Menjadi Nila sesungguhnya, yang tidak selalu menonjol, lebih pendiam, lebih kalem, lebih sabar, lebih ikhlas serta selalu memberi perhatian kepada siapapun yang aku sayangi. Karena aku tak ingin kejadian yang sama terulang kembali menerpa hidupku.

Aku duduk terdiam di bawah pohon rindang. Di atas bukit dekat rumahku. Memandang langit luas serta pemandangan bukit hijau yang berjejer rapi. Ku teringat senyuman terakhirmu, kasih. Ada secarik kertas dan bolpoin digenggamanku. Angin sepoi-sepoi seakan memberi suatu kekuatan untuk menulis suatu bait tentangmu. Aku menulis suatu puisi untuknya sebagai tanda rinduku untuknya walaupun sudah setahun berlalu. 

Minggu, 6 November 2011

Dear : Kekasih hatiku,
           Alm. Tritan sayang..

Ribuan detik, ribuan menit, ribuan jam, dan ratusan hari telah berlalu
Tanpa terasa ku telah berhasil melewati semua itu tanpamu
Tapi tak kunjung hatiku berlabuh dalam suatu dermaga hati yang lain
Ku merindukanmu wahai pujaan hatiku, pahlawan jiwaku
Hatiku yang beku kini mulai mencair dan mulai bangkit
Karna aku menyadari bahwa kau akan bersedih jika melihatku trus meratapi

Kenangan itu..
Masih tersusun rapi dalam memoriku
Aku ingin lebih kuat darimu
Setegar karang yang tetap kuat meski di terpa ombak kesedihan

Nila yang menjadi kelabu kini perlahan memudar
Nila kini perlahan menjadi warna yang cerah

Tampak dari kejauhan terdapat bayangmu diujung sana
Semakin dekat dan semakin mendekat
Engkau yang tampan nan rupawan mengirimkan senyuman manis untukku
Senyuman itu yang kini menular padaku
Akupun mulai tersenyum kembali, walau kau tak berada di sisi
Aku yang pilu, aku yang sendu perlahan mulai menyusun lagi kehidupanku yang baru
Badai yang kulalui, aku yakin pasti kan berlalu
Walau kutahu pasti akan ada kerikil kecil
Yang akan menghalani jalanku

Kini kutanamkan rinduku disini
Diatas kakiku berpijak
Diatas bukit dan hijau yang terhampar permadani luas yang menyegarkan mata
Ingin aku selalu merindukanmu disini
Memandang langit nan biru dan kemudian ku melihatmu tersenyum
Rasa ini akan terus menjadi milikmu, sayang
Percayalah bahwa engkau telah merajai hati ini
Aku selalu merindukanmu
Tetap tunggu aku di surga
I miss you..
                                                                                     Kekasih yang sedang merindukanmu,
                                                                                                                Nila 

Lega rasanya hatiku setelah menulis suatu puisi untuknya. Yang mungkin ini mirip sebuah surat untuk dirinya. Ku lipat kertas puisiku, hingga berbentuk seperti pesawat. Ini adalah pesawat cinta untuk kekasih hatiku. Ingin ku pergi terbang bersama anganku dengan pesawat cinta ini. Aku ingin bertemu dengan kekasih hatiku untuk mengobati rasa rinduku. Perlahan ku terbangkan pesawat ini dari atas bukit. Aku terdiam, ku hembuskan nafas, kupejamkan mataku, kurasakan  semilir angin yang berdesir, kubayangkan senyuman terakhirmu, dan anganku pun mulai melayang. Terbang..

      

-          THE END       - 

by : RDC 


 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Puji syukur Alhamdulilah saya panjatkan kehadirat Allah SWT. yang memberikan segala nikmat dan hidayahnya kepada saya.
Beribu-ribu nikmat telah mampir dalam hidup saya, walau sebagian orang berfikir bahwa apa yang saya dapatkan cuma biasa-biasa saja.
Walau hidup saya tak sebegitu mewah seperti orang-orang di luar sana, tapi saya bahagia telah diberi kenikmatan ini yang luar biasa rasanya. 
Seperti di beri keluarga yang menurut saya sakinah mawadah warohmah sih hehe. Kami saling mendukung, bersyukur punya orang tua yang sayang sekali sama saya, trus kakak juga sudah dapat kerja, trus kami juga selalu sehat wal afiat, Allah selalu memberi rezki yang cukup bagi kami, dan Allah juga memberi saya kenikmatan berupa diterima SNMPTN di Universitas Brawijaya, terus 10 besar saat wisuda kemarin, walaupun nilai UAN nya nggak bagus-bagus amat sih, tapi saya tetap mensyukurinya.
Alhamdulillah sekarang saya juga udah dapet kos di Malang, jadi udah nggak bingung lagi. Jadi pengangguran deh di rumah :D

Pumpung liburan, saya belajar coba bikin cerpen yang beberapa hari nggak jadi-jadi. Soalnya saya nggak pernah nulis cerpen yang agak panjang. Susah merangkai kata-katanya. Tapi hari ini sudah jadi sih. Mau saya post tapi takut jelek dibacanya :( 
Ahh hloss ajalah, ini mau saya post. Yang udah mau baca, makasih ya. Mohon kritik dan sarannyaa  =]

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar









"Sedih harus berpisah dengan kalian kawan-kawanku.
Kejarlah impian kalian masing-masing.
Kalian pasti bisa, jika kalian mau.
Begitupun aku"

One day we will meet again, with the success of each of us.
Gonna miss yoooouuuuu <3

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ihiiiy seneng bisa ngupdate blog ini lagi. Tapi kok udah bulan Mei siihhhh u.u Farewell Party, perpisahan sama anak-anak juga udah :( jadi sedih nih. Makin dek dek an aja kalo harus nungguin pengumuman kelulusan + SNMPTN. Akhir-akhir ini yang bisa saya lakuin cuman berdoa, berdoa, dan berdoa. Semoga saya dan teman-teman saya di SMAN 2 Ponorogo bisa lulus seratus persen, trus kita bisa masuk di Universitas idaman kami. Aaamiiinnnnnn
Nggak cuman berdoa sih. Saya juga harus bimbel buat jaga-jaga kalo umpama nggak keterima undangannya. Tapi semoga keterima Yaa Allaahhh :') Aamiin ya robbal 'alamiiinn. Cemungut ceman ceman kita pasti bisaaa!!!!!!

Mei, 
Jadilah bulan yang indah dan menawan
Mampu menerangi jalan pada kawan dalam kegelapan
Mampu memberi cahaya terang pada kawan yang tak tahu arah
Mampu membiarkan kawan menatap jauh kedepan 
Mampu memberi masa depan yang cerah pada kawan yang telah berjuang
Mampu memberi kebahagiaan pada kawan serta para orang tua yang telah berdoa dan berikhtiar
Mei, 
Jadilah bulan yang tak memberi harapan palsu
Tak ada mimpi kawan yang tak jadi nyata
Tak ada dinding penghalang untuk kawan berteriak suka cita
Tak ada tetes air mata kawan berjatuhan karena kesedihan
Tak ada kawan yang melangkah ragu
Yang ada hanyalah keyakinan kawan untuk melangkah maju karena kemenangan

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 


Kutatap langit jingga yang bersahaja
Menguatkan sisi kehidupan di jiwa raga
Ku terpana.. Menyawang pesona jingga yang menjera
Menyandra sisi-sisi keimanan
Hingga tak ingin dia lari dan menepis dengan sendirinya
Angan ini terus berlarian
Seakan terbang terbawa awan tuk menyapa Sang Pencipta
Kuragukan, tapi telah teryakinkan
Itulah kuasa Tuhan Yang Maha Esa
"Ya Allah Ya Tuhanku, Engkau Maha Segalanya"

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
   Hingga kesekian kalinya aku telah tersakiti oleh cinta. Kehadirannya, kepedulinya, kebaikannya, dan senyum manisnya, dia membuat ku bertahan karena mampu merubah tangis duka menjadi sebuah tawa bahagia. Jatuh cinta itu memang indah, mampu membuat dunia seakan milik kita berdua.

   Tapi semua sirna. Ketika aku berharap lebih padanya, ketika aku telah membayangkan segala sesuatu yang dapat ku rangkul bersamanya. Ternyata semua itu hanyalah sebuah tatapan kosong semata. Hingga hati ini berubah warna hitam kelam. Yang semula manis menjadi pahit seketika. Cintaku kini tak bertuan.

    Telah ku berikan segala perasaanku, telah ku curahkan segala cintaku, kepada dirinya yang hanya satu-satunya. Nyatanya dia mengacuhkan segalanya dan berpaling kepada yang lain yang menurutnya lebih layak bersanding dengannya. Setelah 3 tahun lamanya aku berharap, menanti, dan memendam cinta ini hanya untuk dirinya kini sia-sia. Bagiku 3 tahun itu bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah penantian. Aku telah terhanyut, terbang bersama harapan dan impian yang tak dinyana, kemudian aku di hempaskan secara tiba-tiba olehnya. Dirinya pergi seperti angin lalu yang berhembus meninggalkan aku dalam kesunyian dan kegelapan malam yang menyelimuti diriku.

     Aku ingin beranjak, tapi hatiku tak kuasa. Hanya wajahnya yang terus dalam anganku dan tak pernah lenyap dari bayanganku. Seakan ingin terus berputar pada pusaranya. Aku terluka. Terluka karena cinta yang tak kau balas. Tetapi aku tetap mencintaimu. Tanpa harap dan tujuan yang jelas. Karena aku tahu, cintamu hanyalah semu bagiku.  

     Aku merindukan cahaya sang mentari di pagi hari, hingga mampu menjatuhkan tetesan embun di hati ini. Membersihkan segala goresan luka, dengan tetesan embun yang dingin lagi menyegarkan. Kini saatnya aku bangkit, kini saatnya aku pergi menjauh dan tak pernah lagi mengungkit. Hidup ini akan habis dengan sendirinya jika hanya untuk meratapi dirimu. Aku sadar, jika aku terus bertahan untuk harapan yang tak kunjung datang, alangkah remuknya hati ini dan kian gersang. Aku sadar, cinta itu tidak buta. Masih banyak benih-benih cinta yang dapat aku sebarkan pada yang lainnya. Yang lebih bisa menghargai cintaku dan bisa hidup berbahagia denganku.

    Dengan senyuman dan harapan yang baru. Tuhan pun inginkan aku hidup lebih bahagia, ingin kurubah duniaku menjadi lebih indah dengan atau tanpa dirimu.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sunyi..
Tak ada suara yang pasti
Suara angin berhembus pun tak ada
Yang semakin mendulang kegelisahan semata
Senyap..
Mulut ini membisu sekejap
Seperti tak ada ruang lagi untuk ku bernafas dan ucapkan kata
Hanya suara jam dinding yang perlahan berdetak
Berhasil membangunkan aku dari lamunanku
Ingin ku teriak
Tapi ku tak tak dapat
Hampa..
Goresan luka yang nyata
Hanya senyum sumbang yang semakin menyiksa
Lampu kamar ini kian meredup
Seakan melarangku bercerita
Ku rebahkan tubuh ini diatas tempat tidur
Terdiam dan tak tergerak sedikitpun
Melihat langit-langit kamar yang semakin mengabur
Mata ini mulai terpejam
Kemudian menerawang hingga sudut pikiran
Kosong..
Tak ada bayangan kian menyongsong 
Tak ada seuntai harapan tertangkap
Terkemas di dalam sanubari yang menepi
Bersembunyi, tersingkap oleh dinginnya suasana
Kemudian aku buka lebar mataku yang sayu
Hingga aku sadar, bahwa aku memang SENDIRIAN



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • Anything
  • Cerpen
  • Dream
  • Family
  • Fiksi
  • Film
  • Food
  • Friends
  • Hobi
  • Islami
  • Lirik Lagu
  • Love Story
  • Motivasi
  • Puisi
  • Resep
  • Seni
  • Tips
  • Wish

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  Juni (1)
      • Mengenang Lahirnya Anugerah
  • ►  2020 (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (7)
    • ►  April (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2017 (12)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2016 (5)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2015 (3)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2014 (7)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2013 (35)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (6)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (3)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (5)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)

About Me

Retno Dwi Cahyani
Lihat profil lengkapku

Viewers

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates