­

Dingin

Mei 23, 2017 / BY Retno Dwi Cahyani
Angin kesunyian berhembus diwajahmu semalaman Kabut kota berterbangan lebih lebat dari biasanya Dingin,  Kau mengalungkan syal rajutmu sampai menutupi hidung  Sementara berjalan sambil menyembunyikan jari-jari tangan di dalam saku celana Kau tahu, malam adalah keangkuhan rasa yang seharusnya meledak tapi tertimbun kebodohan Kau menyusurinya ketika kau paham bayanganmu sendiri hilang saat malam Mataku; langit tua yang penuh serpihan-serpihan cerita lama Aku ingin tahu, apakah setiap malam kau diam-diam bergegas membacanya seakan tak pernah tuntas? Dingin,...

Continue Reading