Hawa dingin semakin nanar Memori semakin liar Apa itu rindu? Haha, semesta berpihak padaku Angin sibuk menampar dedauanan berparas wajahmu semalam suntuk Langit adalah raksasa jingga sebagai atapnya tanpa pernah mengernyit Kamu, kebebasan yang menggoncangkan Sosok efemeral yang janggal Tak sungguh aku kenal namun terus mencekal akal Jauh dari nalar Tak sadar, terus mengejar Bagai elok Lembah Mandalawangi yang kucintai sebelum ku temui Dan kediaman adalah kegilaan dibawah malam penuh bintang yang kegirangan ...