Dingin

by - Mei 23, 2017


Angin kesunyian berhembus diwajahmu semalaman

Kabut kota berterbangan lebih lebat dari biasanya
Dingin, 
Kau mengalungkan syal rajutmu sampai menutupi hidung 
Sementara berjalan sambil menyembunyikan jari-jari tangan di dalam saku celana
Kau tahu, malam adalah keangkuhan rasa yang seharusnya meledak tapi tertimbun kebodohan
Kau menyusurinya ketika kau paham bayanganmu sendiri hilang saat malam
Mataku; langit tua yang penuh serpihan-serpihan cerita lama
Aku ingin tahu, apakah setiap malam kau diam-diam bergegas membacanya seakan tak pernah tuntas?
Dingin,
Telah merengkuh tubuh dan pelan-pelan merasuki hatimu lebih jauh
Kau menyembunyikan diri dan menggugurkan daun-daunmu sendiri
Sedangkan dari pekarangan rumah, aku melihat hatiku serupa tanaman liar yang tumbuh subur dan tak berjamur
Mengawasimu dari kejauhan seperti tindak pidana yang mengubah rasa menjadi hukuman
Kemudian aku menemukanmu pada bangku-bangku kosong di tepi jalan
Membangun kenangan ketika semua orang sibuk melupakan
Membakar lamunanmu yang sudah menjadi ladang memenuhi trotoar
Dingin,
Tatapan matamu ku hirup dalam-dalam ditengah lambaian angin malam
Lalu aku melihat masa depan seperti gigil yang meleleh di jalanan dan tertelan seduhan secangkir kopi hitam


                                                                                                               Image source: Google


You May Also Like

0 komentar